Dengan suara yang lemah dan terbata-bata, pagi itu Muhammad saw, rasul terakhir, memberikan nasehat kepada sahabat-sahabatnya:
"Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya.
Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian,
sunnah dan Al-Qur'an. Barang siapa mencintai sunnahku, berarti ia
mencintai aku. Dan bersamaku kelak, orang-orang yang mencintaiku, akan
masuk ke dalam surga bersama-sama.”
Sesudah mengakhiri khutbahnya, dengan tatapan yang teduh dan penuh
kasih, Muhammad menatap wajah sahabatnya satu per satu. Bertahun-tahun
Rasulullah melakukan kebiasaan mengabsen sahabatnya di pagi hari. Tetapi
tatapan di pagi hari itu, lain dari biasanya.
Ada perasaan yang begitu berat mengganjal di hatinya. Ada perasaan tidak
ingin hidup terpisahkan dari mereka. Siapa yang sanggup, berpisah
dengan orang-orang terkasih, yang telah menemani dalam suka dan duka,
selama lebih dari 22 tahun? Ia seperti ingin terus berada di
tengah-tengah para sahabatnya, yang telah rela mengorbankan apa saja
yang menjadi milik mereka, demi tegaknya risalah yang diemban rasul-Nya.
Suasana senyap. Para sahabat merasa, waktunya telah tiba. Sesudah haji
wada, yang juga menyiratkan berakhirnya risalah kenabian Muhammad, para
sahabat masih terus menunggu, kapan tiba waktunya. Dan kini mereka
merasa, mungkin inilah saatnya.
Abu Bakar mamandang Rasulullah. Matanya menatap nanar dan berkaca-kaca.
Umar yang gagah dan pemberani, sesak dadanya, berusaha menahan tangis
sekuat daya. Utsman terpaku dalam diam. Ali menundukkan kepalanya
dalam-dalam. Semua yang hadir tidak mampu megeluarkan kata-kata. Manusia
tercinta itu sudah berada di ujung yang paling akhir dari
perjalanannya. Usai sudah Muhammad menunaikan tugasnya.
Tatkala Rasulullah berjalan limbung turun dari mimbar, Ali dan Fadhal
dengan sigap segera menangkapnya. Rasulullah segera dipapah masuk ke
dalam rumahnya, yang hanya berjarak beberapa meter dari mimbarnya, di
Masjid Nabawi yang mulia. Para sahabat semakin yakin, saatnya telah
tiba.
Mereka terus berkumpul, di sekitar rumah Rasulullah, menunggu
detik-detik berlalu. Matahari sudah meninggi, tetapi pintu rumah Nabi
masih saja tertutup. Manusia agung yang mampu hidup lebih mewah dari
segala raja, memilih tidur beralaskan tikar, terbaring lemah di
dalamnya, bersama keluarganya yang mulia. Keringat yang mengucur dari
keningnya membasahi pelepah kurma yang menjadi bantalnya.
Dari arah luar, tiba-tiba terdengar seorang laki-laki berseru,
"Assalamu'alaikum!" Fatimah, putri Nabi, keluar menemuinya. "Boleh saya
masuk?” tanya laki-laki itu. Fatimah tidak memberinya izin, karena
ayahandanya sedang terbaring lemah. “Maafkanlah, ayahandaku sedang
demam,” kata Fatimah sambil membalikkan badan dan segera menutup kembali
pintunya.
Fatimah kembali menemani ayahnya. Rasulullah sudah membuka matanya saat
Fatimah datang menghampiri. Ia bertanya pada putrinya, “Siapakah tadi
yang datang wahai putriku?” Fatimah menjawab, “Aku tidak tahu, baru
sekali ini aku melihatnya." Lalu Rasulullah menatap wajah putrinya
dalam-dalam, layaknya seorang ayah yang hendak pergi meninggalkan
anaknya untuk jangka waktu yang cukup lama.
“Ketahuilah wahai putriku, dialah yang menghapuskan kenikmatan
sementara, dialah yang memisahkan pertemuan kita di dunia. Dialah
malakul maut,” kata Rasulullah. Mendengar itu, meledaklah tangis
Fatimah, yang selama ini ditahannya.
Saat malaikat maut datang menghampiri, Rasulullah bertanya, mengapa
Jibril tidka ikut bersamanya. Jibril sedang bersiap di atas langit untuk
menyambut datangnya kekasih Allah, pamungkas para nabi dan Rasul,
penghulu dunia ini. Lalu dipanggilah Jibril turun ke bumi mendekat
kepada Rasulullah.
Dengan suaranya yang lirih Rasulullah bertanya, "Wahai Jibril, jelaskan
apa hakku nanti di hadapan Allah?" Jibril menjawab, "Pintu-pintu langit
telah terbuka, para malaikat telah menanti kedatangan ruhmu. Semua pintu
surga terbuka lebar menanti kedatanganmu."
Jawaban itu tidak memuaskan Rasulullah. Di wajahnya masih terlukis
kecemasan. “Apakah engkau tidak suka mendengar kabar ini, wahai kekasih
Allah?” Jibril bertanya dengan heran. Nabi menukas, "Kabarkan kepadaku
bagaimana nasib umatku sepeninggalku!"
“Engkau tidak perlu khawatir, wahai Rasul Allah. Pernah Allah berfirman
kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah
berada di dalamnya,” ujar Jibril menghibur.
Waktu semakin memburu. Malaikat maut didesak waktu. Ia harus segera
menunaikan tugasnya. Apabila ajal telah tiba, tidak ada yang bisa
menahan barang sedetik, tidak juga ada yang mampu mengulurnya, demikian
janji Allah kepada seluruh manusia. Perlahan-lahan Israil menarik ruh
Rasulullah dari jasadnya yang semakin melemah. Rasulullah bersimbah
keringat di sekujur tubuhnya. "Aduhai Jibril, betapa sakitnya sakaratul
maut ini."
Rasulullah mengaduh perlahan. Suaranya lirih. Mata Fatimah Az-Zahra
terpejam. Ali tertunduk dalam diam di sampingnya. Malaikat pengantar
wahyu tak kuasa melihat penderitaan kekasih Allah, dibuangnya mukanya
jauh-jauh.
"Apakah engkau jijik melihatku, hingga kau palingkan wajahmu dariku?"
tanya Nabi kepada Jibril. "Siapa yang mampu melihat penderitaan kekasih
Allah direngut nyawanya?" ujar Jibril.
Tak kuasa menahan sakit, Rasulullah memekik. "Ya Allah, betapa sakitnya
maut ini. Timpakan semua siksa maut ini kepadaku. Jangan kau berikan
kepada ummatku." Sekujur tubuh Rasulullah, dari kaki hingga dada, sudah
mulai terasa dingin. Di penghujung ajalnya, ketika nafas tinggal
satu-satu meninggalkan rongga dadanya, bibirnya bergerak seperti hendak
mengatakan sesuatu. Ia masih ingin mengatakan sesuatu. Menantu
Rasulullah yang berada di sampingnya segera mendekatkan telinganya,
mendengar dengan sangat seksama. "Uushiikum bis-shalah, wa maa malakat
aimanukum." Itulah kalimatnya yang keluar. "Peliharalah shalat, dan
santunilah budak-budak di antaramu."
Di luar rumah, suara tangis para sahabat mulai terdengar bersahutan. Di
sisa terakhir tenaganya yang tertinggal, Rasulullah masih berupaya
mengucapkan sesuatu. Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir
Rasulullah yang mulai membiru. "Ummatii, ummatii, ummatiii..." "Umatku,
umatku, umatku..."
Nyawapun meregang, lepas dari jasad Rasulullah. Tangispun meledak. Semua
sahabat merasa telah kehilangan manusia yang paling mereka cintai,
manusia yang memiliki sebaik-baik akhlaq, yang sejak muda bergelar
Al-Amin, Yang Terpercaya.
Minggu, 25 Oktober 2015
Meninggalkan Maksiat
Imam Al-Ghazali mengatakan:
“Menghapus dosa maksiat harus dengan
menempuh dengan jalan yang berlawanan dengan maksiat. Seperti suatu penyakit
yang harus diobati dengan sesuatu yang berlawanan dengan penyakit tersebut.
Setiap kegelapan yang menutupi hati
karena perbuatan maksiat, hanya bisa dihapus oleh cahaya yang masuk ke dalamnya
akibat amal kebaikan yang berlawanan dengan perbuatan sebelumnya (maksiat).
Dan, karena semua yang berlawanan itu terdiri dari unsur-unsur yang bersesuaian,
maka hendaknya setiap kejahatan dihapus dengan kebaikan sejenis, yang
berlawanan sebelumnya. Misalnya, warna putih dapat dihilangkan dengan warna
hitam, panas dapat dihapus dengan dingin. Tetapi, janganlah warna putih itu
dihapus dengan panas atau dingin.
Bukti bahwa suatu perbuatan bisa dihapus
dengan perbuatan lain yang berlawanan itu dapat kita lihat dari kecintaan
manusia pada dunia. Sesungguhnya, cinta pada dunia merupakan pangkal dari
segala kesalahan, dan pengaruh yang ditimbulkannya di dalam hati adalah berupa
perasaan suka dan rindu kepada dunia.
Dan, setiap gangguan batin yang
menyebabkan seorang Muslim berpaling dari dunia itu akan menjadi penghapus bagi
dosa-dosanya. Hal tersebut lazim terjadi, rasa resah dan risau itu membuat
hatinya berpaling dari dunia, yang jutru merupakan sumber dari keresahan dan
kerisauan
Rasulullah SAW bersabda, “Bertakwalah
kepada Allah dimanapun engkau berada, dan iringilah kejahatan dengan kebaikan,
niscaya ia akan menghapus (dosa) kejahatan tersebut.” (HR At-Tirmidzi)
Keresahan yang biasa melanda hati seorang hamba tanpa disadari adalah merupakan kegelapan dari dosa. Demikian juga perasaan hati yang dicekam oleh kekhawatiran menghadapi proses hisab di Hari Kiamat, di samping ketakutan akan kedahsyatan huru-hara kiamat.
Rasulullah SAW bersabda, “Di antara
berbagai jenis dosa terdapat sejumlah dosa yang hanya bisa ditebus dengan kesedihan
mendalam.” (HR Abu Nu’man)
Sayyidah Aisyah r.a. juga meriwayatkan
bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika telah menumpuk dosa-dosa seorang hamba,
sedangkan ia sudah tidak memiliki kebaikan untuk menebus dosanya itu, maka
Allah akan menimpakan keresahan ke dalam hatinya, sehingga hal tersebut menjadi
penghapus dosa-dosanya.”
Mungkin engkau akan bertanya, “Jika
seseorang resah dan risau karena persoalan harta, anak atau kedudukan,
sedangkan itu semua termasuk perbuatan buruk, bagaimana mungkin hal itu bisa
menjadi penghapus dosa?”
Ketahuilah, sesungguhnya mencintai dunia
itu merupakan perbuatan buruk, tetapi kegagalan memperolehnya adalah merupakan
tebusan (kaffarah) atas dosanya. Sebaliknya, jika orang tersebut berhasil
memperoleh kenikmatan dari cintanya kepada dunia, maka lengkaplah keburukannya!
Setiap perbuatan maksiat itu harus
diupayakan dihapus dengan mengamalkan kebaikan. Seseorang harus melakukan
kebaikan-kebaikan yang sebanding dengan kejahatan atau dosa yang terlanjur
dikerjakannya. Jika amal kebaikannya lebih besar dari keburukannya, maka ia
adalah orang yang berbahagia. Sebaliknya, jika keburukannya lebih besar, maka
ia adalah orang yang merugi.
Allah SWT berfirman, ”Sesungguhnya
perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang
buruk.” (QS Huud: 114)
Adab Tidur - Bidayatul Hidayah - Imam Ghozali ra
Jika engkau ingin tidur, hamparkan tempat tidurmu dengan menghadap
kiblat. Lalu tidurlah diatas sisi kananmu seperti tidurnya mayit di
liang kuburnya. Ketahuilah bahwa tidur adalah bagaikan kematian dan
terjaga adalah bagaikan bangkit. Bisa jadi, Allah menggenggam rohmu di
malam itu. Maka dari itu, bersiap-siaplah untuk menghadapinya dengan
tidur dalam keadaan suci dan usahakan agar wasiatmu telah tertulis di
bawah kepalamu. Engkau tidur seraya bertobat dan meminta ampunan dari
semua dosa dengan tekad tidak akan berbuat maksiat lagi. Bertekadlah
untuk berbuat baik kepada semua muslim jika Allah membangunkanmu.
Ingatlah bahwa engkau akan berbaring di liang kubur seperti itu seorang
diri, hanya ditemani oleh amalmu. Engkau hanya akan dibalas sesuai
dengan amal perbuatanmu itu. Jangan sampai engkau menghendaki tidur yang
banyak dengan menghampar kasur empuk karena tidur adalah menghentikan
kehidupan. Kecuali, jika bangunmu justru menjadi bencana bagimu sehingga
tidur tersebut lebih membuat agamamu selamat. Ketahuilah bahwa malam
dan siang seluruhnya berjumlah dua puluh empat jam. Jangan sampai
tidurmu sepanjang siang dan malam lebih dari delapan jam. Karena, jika
engkau berumur sekitar enam puluh tahun cukup bagimu membuang dua puluh
tahun darinya, atau sepertiga dari umurmu itu.
Ketika tidur, kembalilah bersiwak dan bersuci. Bertekadlah untuk bangun malam atau bangun sebelum subuh. Dua rakaat di tengah malam merupakan salah satu harta kekayaan yang berharga mulia. Perbanyaklah harta kekayaanmu itu guna menghadapi hari miskinmu. Sebab, harta kekayaan dunia sama sekali tak akan berguna jika engkau binasa.
Ketika tidur, ucapkanlah:
Bismika rabbii wadha’tu janbii wabismika arofa’uhu faghfirlii dzanbii. Allahumma bismika ahya wa amuut wa a’udzubika allahumma min-syarri kulli dzii syarri. Wa min syarri kullidabbatin anta akhidzdzi binashiyatiha, inni rabbi ‟alaa shirath mustaqiim.
Allahumma antal wali falaiisa qablaka syai‟in, wa antal akhirufalaisa ba‟da katsi‟in Wa anta zhohihiru falaisa fauqaka syai‟in Wa antal bathinu falaisa duunaka syai‟in Iqdhii ‘anniid dunya wa aghninii minal faqri. Allahumma antalkhalaqta nafsii wa anta tatawwafaha, laka mamatuha wa mahyaha, in amattaha faghfirlaha wa in ahyaitaha fahfazhha bimatahfazhu bihi „ibadakash shalihiin. Allahumma inni as alukal ‘afwa wal ‘afiyata fiiddiin waddunya wal aakhirati. Allahummaaiqithnii fii ahabiis sa‘ati ilaika wasta’malnii bi ahabbil „amal ilaika hatta tuqarribanii ilaika zulfa wa tub‘idanii ‘an sakhathika ba’da an as alakafatu‟thiinii wa astaghfiraka fataghfirulii wa ad‟uuka fatastajiibulii.
Yang artinya,“Dengan nama-Mu wahai Tuhanku, kuletakkan punggungku dan dengan nama-Mu pula kuangkat serta ampunilah dosa-dosaku. Ya Allah, lindungi aku dari siksaMu pada hari para hamba-Mu dibangkitkan. Ya Allah, dengan nama-Mu aku hidup dan mati. Aku berlindung pada-Mu dari keburukan segala sesuatu yang memiliki keburukan serta dari kejahatan setiap yang melata. Engkaulah yang menggenggam ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku berada di jalan yang lurus. Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Pertama yang tidak didahului oleh sesuatu dan Engkau pula Yang Maha Terakhir yang tak ada sesuatu sesudah-Mu. Engkau Mahatampak, tak ada sesuatu di atas-Mu. Engkau Maha Tersembunyi, tak ada sesuatu di bawah-Mu. Bayarkanlah hutangku dan angkatlah aku dari kemiskinan. Ya Allah, Engkau yang menciptakan diriku dan engkau pula yang mewafatkannya. Kematian dan kehidupannya ada pada kekuasaanMu. Jika engkau matikan diriku ini, maka ampunilah dia, dan jika engkau hidupkan, maka jagalah dia sebagaimana engkau menjaga para hamba-Mu yang saleh. Ya Allah aku meminta pada-Mu pengampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, bangunkan aku dalam waktu terbaik menurutmu. Buatlah aku melakukan perbuatan-perbuatan yang paling Kau senangi sehingga hal itu akan mendekatkan diriku pada-Mu dan menjauhkannya dari murka-Mu setelah aku meminta pada-Mu. Setelah aku meminta pada-Mu, maka Engkau memberikannya, aku meminta ampunan pada-Mu maka Kau terima, dan aku berdoa pada-Mu maka Kau kabulkan untukku.”
Kemudian bacalah ayat al-Kursi dan amana ar-rasalu (surat al-Baqarah: 285) sampai akhir surat. Lalu surat al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas, serta al-Mulk. Usahakan engkau tidur dalam keadaan berzikir pada Allah SWT. dan dalam keadaan suci karena siapa yang melakukan itu, ia akan naik berserta rohnya ke arasy, dan dicatat sebagai orang yang sedang salat sampai bangun kembali.
Ketika tidur, kembalilah bersiwak dan bersuci. Bertekadlah untuk bangun malam atau bangun sebelum subuh. Dua rakaat di tengah malam merupakan salah satu harta kekayaan yang berharga mulia. Perbanyaklah harta kekayaanmu itu guna menghadapi hari miskinmu. Sebab, harta kekayaan dunia sama sekali tak akan berguna jika engkau binasa.
Ketika tidur, ucapkanlah:
Bismika rabbii wadha’tu janbii wabismika arofa’uhu faghfirlii dzanbii. Allahumma bismika ahya wa amuut wa a’udzubika allahumma min-syarri kulli dzii syarri. Wa min syarri kullidabbatin anta akhidzdzi binashiyatiha, inni rabbi ‟alaa shirath mustaqiim.
Allahumma antal wali falaiisa qablaka syai‟in, wa antal akhirufalaisa ba‟da katsi‟in Wa anta zhohihiru falaisa fauqaka syai‟in Wa antal bathinu falaisa duunaka syai‟in Iqdhii ‘anniid dunya wa aghninii minal faqri. Allahumma antalkhalaqta nafsii wa anta tatawwafaha, laka mamatuha wa mahyaha, in amattaha faghfirlaha wa in ahyaitaha fahfazhha bimatahfazhu bihi „ibadakash shalihiin. Allahumma inni as alukal ‘afwa wal ‘afiyata fiiddiin waddunya wal aakhirati. Allahummaaiqithnii fii ahabiis sa‘ati ilaika wasta’malnii bi ahabbil „amal ilaika hatta tuqarribanii ilaika zulfa wa tub‘idanii ‘an sakhathika ba’da an as alakafatu‟thiinii wa astaghfiraka fataghfirulii wa ad‟uuka fatastajiibulii.
Yang artinya,“Dengan nama-Mu wahai Tuhanku, kuletakkan punggungku dan dengan nama-Mu pula kuangkat serta ampunilah dosa-dosaku. Ya Allah, lindungi aku dari siksaMu pada hari para hamba-Mu dibangkitkan. Ya Allah, dengan nama-Mu aku hidup dan mati. Aku berlindung pada-Mu dari keburukan segala sesuatu yang memiliki keburukan serta dari kejahatan setiap yang melata. Engkaulah yang menggenggam ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku berada di jalan yang lurus. Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Pertama yang tidak didahului oleh sesuatu dan Engkau pula Yang Maha Terakhir yang tak ada sesuatu sesudah-Mu. Engkau Mahatampak, tak ada sesuatu di atas-Mu. Engkau Maha Tersembunyi, tak ada sesuatu di bawah-Mu. Bayarkanlah hutangku dan angkatlah aku dari kemiskinan. Ya Allah, Engkau yang menciptakan diriku dan engkau pula yang mewafatkannya. Kematian dan kehidupannya ada pada kekuasaanMu. Jika engkau matikan diriku ini, maka ampunilah dia, dan jika engkau hidupkan, maka jagalah dia sebagaimana engkau menjaga para hamba-Mu yang saleh. Ya Allah aku meminta pada-Mu pengampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, bangunkan aku dalam waktu terbaik menurutmu. Buatlah aku melakukan perbuatan-perbuatan yang paling Kau senangi sehingga hal itu akan mendekatkan diriku pada-Mu dan menjauhkannya dari murka-Mu setelah aku meminta pada-Mu. Setelah aku meminta pada-Mu, maka Engkau memberikannya, aku meminta ampunan pada-Mu maka Kau terima, dan aku berdoa pada-Mu maka Kau kabulkan untukku.”
Kemudian bacalah ayat al-Kursi dan amana ar-rasalu (surat al-Baqarah: 285) sampai akhir surat. Lalu surat al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas, serta al-Mulk. Usahakan engkau tidur dalam keadaan berzikir pada Allah SWT. dan dalam keadaan suci karena siapa yang melakukan itu, ia akan naik berserta rohnya ke arasy, dan dicatat sebagai orang yang sedang salat sampai bangun kembali.
Selesai bedah mumi firaun ilmuwan besar Prancis masuk islam
Maurice Bucaille lahir di negara Perancis. Setelah Tamat pendidikan menengah atas, ia belajar di Fakultas Kedokteran, Universitas Prancis. Kemudian menjadi dokter bedah terkenal dan terpintar yang pernah dimiliki Perancis modern. Namun, cerita keislamannya mampu mengubah kehidupan dia.
Perancis terkenal sebagai negara yang tertarik dengan arkeologi dan
budaya. Di akhir 80an, Perancis meminta Mesir untuk mengirimkan mumi
Firaun untuk dilakukan serangkaian eksperimen dan penelitian.
Akhirnya mumi penguasa Mesir terkenal tersebut akhirnya tiba di
Perancis. Mumi itu kemudian dipindahkan ke ruangan khusus di Monument
Center. Para arkeolog, ahli bedah dan ahli anatomi mulai melakukan studi
tentang mumi ini dalam upaya untuk menyelidiki misteri Firaun.
Dokter bedah senior dan ilmuwan yang bertanggung jawab atas studi
tentang mumi Firaun adalah Profesor Maurice Bucaille. Sementara proses
restorasi mumi berjalan, Maurice Bucaille sibuk dengan pikirannya. Dia
mencoba untuk menemukan bagaimana Firaun ini meninggal.
Saat larut malam, ia menemukan penyebabnya. Sisa-sisa garam yang
terjebak dalam tubuh mumi itu adalah bukti bahwa ia meninggal karena
tenggelam dan mayatnya segera diangkat dari laut.
Terlihat jelas juga bahwa para pendeta Mesir kuno buru-buru mengawetkan
tubuh Firaun tersebut. Tapi Maurice bingung dengan sebuah pertanyaan,
bagaimana tubuh ini--dengan mengesampingkan tubuh mumi lainnya dari
Mesir kuno-- tetap utuh hingga sekarang meskipun tubuhnya pernah
tenggelam di laut.
Maurice sibuk memikirkan hal tersebut ketika seorang koleganya
mengatakan tidak usah terlalu dipikirkan karena dalam Islam disebutkan
bahwa Firaun ini memang tenggelam.
Pada awalnya, dia sangat tidak yakin dan menolak pernyataan tersebut.
Dia mengatakan penemuan seperti itu hanya bisa diketahui melalui
peralatan komputer canggih dan modern.
Maurice bertambah tercengang setelah koleganya yang lain mengatakan
bahwa Alquran, kitab suci yang dipercaya muslim, menceritakan kisah
tenggelamnya Firaun dan mengatakan tubuh tersebut akan tetap utuh
meskipun ia telah tenggelam.
Maurice bertambah terkejut dan terus bertanya-tanya, dari mana kitab
suci umat Islam ini mendapatkan data, sementara mumi tidak ditemukan
sampai 1898. Selain itu Alquran juga baru diturunkan kepada umat Islam
selama lebih dari 1400 tahun setelah peristiwa tenggelamnya Firaun.
Mengingat juga sampai beberapa dekade lalu seluruh umat manusia termasuk
muslim tidak tahu bahwa orang Mesir kuno mengawetkan firaun mereka?
Maurice Bucaille terjaga sepanjang malam menatap tubuh Firaun, berpikir
mendalam soal kitab Alquran yang secara eksplisit mengatakan bahwa tubuh
ini akan utuh setelah tenggelam.
"Bisakah dipercaya nabi Muhammad SAW tahu tentang ini lebih dari 1.000
tahun yang lalu ketika saya baru saja mengetahu hal itu?" pikir Maurice.
Pikiran Maurice malam itu dipenuhi berbagai pertanyaan dan keheranan
tentang kitab suci umat Islam. Mumi tersebut akhirnya dikembalikan ke
Mesir.
Jatuh Cinta dengan Alquran
Tapi, karena ia sudah tahu tentang kisah Firaun versi muslim, ia segera
berkemas dan melakukan perjalanan ke Arab Saudi. Kebetulan saat itu di
Arab Saudi diadakan konferensi medis yang dihadiri banyak ahli anatomi
muslim.
Di sana, Maurice memberitahu mereka tentang penemuannya, yaitu bahwa
tubuh Firaun itu tetap utuh bahkan setelah ia tenggelam. Salah satu
peserta konferensi membuka Alquran dan membacakan surat Yunus ayat 92
yang menceritakan kisah bagaimana tubuh Firaun diangkat dari dasar laut
dan atas izin Allah, tubuh itu akan utuh agar menjadi bahan renungan
bagi orang-orang yang berpikir sesudahnya.
Dalam kegembiraannya setelah dibacakan ayat tersebut, Maurice berdiri di
hadapan para peserta konferensi berkata, 'Aku telah masuk Islam dan
percaya pada Alquran ini'.
Saat kembali ke Perancis, Maurice Bucaille menghabiskan 10 tahun
melakukan studi tentang kesesuaian fakta-fakta ilmiah saat ini dengan
yang disebutkan dalam Alquran. Dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa
Alquran tidak pernah bertentangan dengan satupun fakta ilmiah.
Dia kemudian menulis buku tentang Alquran yang menghebohkan seluruh
negara-negara Barat, dengan judul, "The Bible, The Qur’an and Science,
The Holy Scriptures Examined In The Light Of Modern Knowledge."
Buku tersebut sangat laris dan bahkan ratusan ribu eksemplar telah
diterjemahkan dari bahasa Perancis ke bahasa Arab, Inggris, Indonesia,
Persia, Turki dan Jerman. Bahkan tersebar ke hampir semua toko buku di
seluruh dunia.
"Sisi ilmiah dari Alquran telah mengejutkan saya sejak awal, karena
pikiran saya belum pernah melihat begitu banyak kajian ilmu pengetahuan
yang disuguhkan secara akurat. Itu semacam cermin bagi ilmu pengetahuan
yang sudah ditulis dalam buku-buku ilmiah selama ini padahal ilmu
tersebut sudah ada lebih dari 13 abad yang lalu," sepenggal catatan kata
pengantar Maurice dalam bukunya.
NASIHAT IMAM GHOZALI
Imam Ghazali : Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ?
Murid 1 : Orang tua
Murid 2 : Guru
Murid 3 : Teman
Murid 4 : Kaum kerabat Imam Ghazali : Semua jawapan itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahawa setiap yang bernyawa pasti akan mati ( Surah Ali-Imran :185).
Imam Ghazali : Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ?
Murid 1 : Negeri Cina
Murid 2 : Bulan
Murid 3 : Matahari
Murid 4 : Bintang-bintang
Iman Ghazali : Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.
Iman Ghazali : Apa yang paling besar didunia ini ?
Murid 1 : Gunung
Murid 2 : Matahari
Murid 3 : Bumi
Imam Ghazali : Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU
(Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.
Imam Ghazali : Apa yang paling berat didunia?
Murid 1 : Baja
Murid 2 : Besi
Murid 3 : Gajah
Imam Ghazali : Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH
(Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ke tika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.
Imam Ghazali : Apa yang paling ringan di dunia ini ?
Murid 1 : Kapas
Murid 2 : Angin
Murid 3 : Debu
Murid 4 : Daun-daun
Imam Ghazali : Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat.
Imam Ghazali : Apa yang paling tajam sekali di dunia ini?
Murid- Murid dengan serentak menjawab : Pedang
Imam Ghazali : Itu benar, tapi yang paling tajam sekali di dunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.
SUBHANALLAH
Semoga ALLAH senantiasa memberikan kita petunjuk dan hidayah-Nya agar kita menjadi hamba2-Nya yang tetap dalam ketaatan, tunduk dan patuh dalam ketakwaan kita kepada ALLAH SWT. Aamiin
Silahkan Klik Like dan Bagikan di halamanmu agar kamu dan teman-temanmu senantiasa istiqomah dan bisa meningkatkan ketakwaannya kepada ALLAH SWT.
Langganan:
Postingan (Atom)



